iklan

Minggu, 31 Desember 2017

*Mengapa Ustad Abdul Somad Harus Dicekal?*

Oleh : Hersubeno Arief

Badannya kurus kerempeng, tampilannya sederhana. Celetukan-celetukannya  ketika menyampaikan ceramah lucu, dalam cengkok Melayu yang unik dan menarik. Namun hari-hari ini Ustad Abdul Somad tiba-tiba menjadi figur yang dibenci, bahkan ditakuti.

Kehadirannya di Bali ditolak, bahkan Abdul Shomad dipersekusi. Dipaksa menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menandatangani pernyataan kesetiaan kepada NKRI.

Di Hongkong dia dicekal dan dideportasi. Sementara ceramahnya di masjid PT PLN Persero Disjaya, Jakarta tiba-tiba dibatalkan, padahal tenda sudah terpasang, logistik sudah tersedia, dan jamaah sudah berbondong-bondong datang.

Di medsos Abdul Somad juga selalu _dibully_. Bila melihat accountnya, para pembuli ini adalah kelompok yang  sering disebut sebagai *@cebongers.*

Mengapa Ustad Abdul Somad ditakuti, karena itu aktivitas dakwahnya  harus dihambat?

*Pertama*,  kesalahan pahaman dan pembelahan di tengah masyarakat kian dalam.  Semua yang berbau Islam termasuk gerakan dakwah harus dicegah dan dimusuhi (Islam Phobia). Semua ulama dianggap radikal. Adanya kelompok semacam ini tercermin dari peristiwa di Bali. Perlu kesabaran dan gerakan dakwah yang ramah untuk menyadarkan mereka.

*Kedua,* ada kelompok-kelompok yang khawatir dengan popularitas  Abdul Somad yang kian hari, kian membesar dan bisa menjadi sebuah gerakan politik yang mengancam kemapanan para pendukung penguasa. Indikasinya bisa terlihat dari peristiwa deportasi dari Hongkong, dan pembatalan ceramah di PLN Disjaya. Ada tangan-tangan kekuasaan tak terlihat yang bermain di dua peristiwa tersebut.

Kelompok kedua ini bisa  menggerakkan dan memanfaatkan kelompok pertama. Jadi jangan kaget bila nanti akan muncul beberapa penolakan serupa di daerah lain. Tidak perlu disikapi dengan amarah, atau aksi balasan serupa.

Jangan pernah mau diprovokasi dan dibenturkan. Dengan begitu mereka tidak  mendapat justifikasi bahwa umat Islam memang radikal, karena itu layak ditindak.

Kelompok pendukung penguasa ini, sedang paranoid. Rangkaian peristiwa yang terjadi belakangan ini dengan jelas menunjukkan hal itu.

Masifnya publikasi survei yang menyatakan Jokowi tetap paling unggul secara elektabilitas. Pencopotan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, berbagai manuver penguasa di pilkada, terutama di Jawa, termasuk terus direcokinya berbagai program kerja dan anggaran Anies-Sandi,  menunjukkan mereka sedang mencoba mencegah umat melakukan konsolidasi. Berbagai potensi munculnya kelompok penentang, sekecil apapun, harus dicegah.

*Penetrasinya sangat luas*

Bila melihat hasil survei, elektabilitas Jokowi sebagai _incumbent_ tidak terlalu mengesankan (30-42 persen). Kabar baiknya  belum ada figur alternatif  yang potensial sebagai penantang, kecuali Prabowo. Figur-figur potensial lainnya seperti Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan, untuk sementara dapat dinetralkan.

Namun belajar dari kasus Pilkada DKI, ketika umat bersatu, elektabilitas seorang _incumbent_ yang sangat perkasa seperti Ahok pun,  bisa diporak porandakan. Ahok saat itu memiliki elektabilitas selalu di atas angka 50 persen saja bisa tumbang. Apalagi  bila angkanya lebih rendah. Jadi konsolidasi umat sejak dini harus dicegah.

Tanda-tanda bahwa konsolidasi umat  terus menguat dapat terlihat dari Reuni Alumni 212 dan Aksi Bela Palestina. Jutaan orang bisa dikumpulkan, cukup dengan undangan via media sosial.

Begitu pula halnya dengan bubarnya pasangan Deddy Mizwar-Achmad Syaichu di Jabar. PKS, PAN dan Gerindra harus mengalah dan memenuhi tekanan simpul umat  yang tidak menghendaki PKS, dan PAN berkoalisi dengan Demokrat. Partai besutan SBY itu dimusuhi karena mendukung Perppu Ormas dan ditengarai akan mengusung Jokowi.

Motor dari berbagai aksi tersebut adalah Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI yang sekarang sudah berubah nama menjadi GNPF Ulama. Kelompok penekan ini ternyata makin solid  kendati salah satu pentolannya Habib Rizieq Shihab harus mengasingkan diri ke Arab Saudi.

GNPF Ulama ini menjadi simpul umat yang sangat kuat terutama di perkotaan. Namun sejauh ini mereka relatif belum berhasil masuk ke kelompok Islam tradisional, khususnya Nahdlatul Ulama (NU). Dalam beberapa kesempatan Ketua GNPF Bachtiar Nasir juga mengalami penolakan dari Banser NU.

Secara struktural Pengurus Besar (PB) NU di bawah pimpinan KH Said Agil Siroj sudah berhasil dirangkul pemerintah. Namun NU kultural banyak yang tidak sepaham dengan Said Agil dan   terlibat aktif berbagai aksi yang dimotori GNPF.

Jadi dalam peta politik makro, posisi umat Islam  terbelah. Kelompok-kelompok Islam perkotaan menjadi penentang kuat Jokowi. Sementara kelompok tradisional sebagian besar menjadi pendukung Jokowi.

Munculnya Abdul Somad dikhawatirkan dapat mengubah peta.  Secara tradisi maupun amaliahnya, Somad sesungguhnya termasuk dalam kelompok "tradisional"

Dia dibesarkan di sekolah yang dikelola oleh Alwashliyah yang secara amaliah dekat dengan NU. Dia juga pernah menjadi Sekretaris  Lembaga Bahtsul Masa’il  NU Riau (2009-2014).

Dengan latar belakang tradisi dan amaliahnya yang bisa disebut sebagai ahlussunnah wal jamaah (berqunut, maulid dan tahlil), menariknya Abdul Somad sangat mengagumi Presiden Turki Erdogan. Abdul Somad juga mendukung Gerakan 212, meskipun tidak pernah hadir. Dia bersuara lantang soal Palestina.

Dengan bahasa yang mudah, lucu, tapi dengan penguasaan ilmu agama yang begitu luas dan dalam,  Somad menjadi da’i yang bisa diterima di semua kalangan.

Dia juga menjadi Ustad Zaman Now yang digandrungi generasi milenial. Dia besar karena media sosial. Ratusan ceramahnya diunggah oleh para pengagumnya di berbagai platform medsos, dan ditonton jutaan orang.

Dia diundang ke berbagai penjuru tanah air, mulai dari pengajian biasa, kelompok majelis taklim, pejabat sipil maupun militer di daerah.  Somad sudah menjadi ustad berjuta umat.

Kendati lucu, tapi prinsip dan aqidah Abdul Somad sangat tegas. Dia misalnya pernah menyatakan bahwa sebagai muslim, wajib taat kepada Allah SWT, Rasul dan Ulil Amri (Penguasa). Namun dia tidak hanya berhenti disitu. Dia memberi catatan penguasa yang ditaati adalah penguasa yang amanah dan adil. Tidak asal penguasa.

Somad juga sering mengingatkan pentingnya umat bersatu dalam sebuah jamaah, hanya dengan begitu, musuh-musuh Islam akan takut.

Kian membesarnya pendukung Abdul Somad  inilah yang tampaknya ditakutkan oleh penguasa. Ceramahnya yang selalu dihadiri ribuan jamaah dikhawatirkan bisa menjadi momentum konsolidasi umat.

Somad sudah menjadi _solidarity maker_. Dia mengambil alih kekosongan ruang umat yang membutuhkan seorang ulama yang perilaku dan kata-katanya  bisa dipercaya.

Bagi kelompok yang paranoid, fenomena Abdul Somad ini sangat menakutkan. Mereka melakukan pendekatan "memukul" bukan "merangkul."

Pendekatan represif  seperti pada masa Orde Baru, sudah terbukti gagal diterapkan oleh rezim ini ketika menghadapi berbagai Aksi Bela Islam. Bila hal itu juga diterapkan kepada Abdul Somad, dipastikan akan menemui kegagalan serupa. Perlawanan kepada penguasa akan semakin membesar. Sudah waktunya untuk berubah. End
30/12/17#Copas

Sabtu, 30 Desember 2017

Copas: COPAS:

MOHON DIBACA DGN SABAR TANPA EMOSI TERUTAMA OLEH ROMBONGAN PENGUASA ......

*Mengapa Ustad Abdul Somad Harus Dicekal?*

Oleh : Hersubeno Arief

Badannya kurus kerempeng, tampilannya sederhana. Celetukan-celetukannya  ketika menyampaikan ceramah lucu, dalam cengkok Melayu yang unik dan menarik. Namun hari-hari ini Ustad Abdul Somad tiba-tiba menjadi figur yang dibenci, bahkan ditakuti.

Kehadirannya di Bali ditolak, bahkan Abdul Shomad dipersekusi. Dipaksa menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menandatangani pernyataan kesetiaan kepada NKRI.

Di Hongkong dia dicekal dan dideportasi. Sementara ceramahnya di masjid PT PLN Persero Disjaya, Jakarta tiba-tiba dibatalkan, padahal tenda sudah terpasang, logistik sudah tersedia, dan jamaah sudah berbondong-bondong datang.

Di medsos Abdul Somad juga selalu _dibully_. Bila melihat accountnya, para pembuli ini adalah kelompok yang  sering disebut sebagai *@cebongers.*

Mengapa Ustad Abdul Somad ditakuti, karena itu aktivitas dakwahnya  harus dihambat?

*Pertama*,  kesalahan pahaman dan pembelahan di tengah masyarakat kian dalam.  Semua yang berbau Islam termasuk gerakan dakwah harus dicegah dan dimusuhi (Islam Phobia). Semua ulama dianggap radikal. Adanya kelompok semacam ini tercermin dari peristiwa di Bali. Perlu kesabaran dan gerakan dakwah yang ramah untuk menyadarkan mereka.

*Kedua,* ada kelompok-kelompok yang khawatir dengan popularitas  Abdul Somad yang kian hari, kian membesar dan bisa menjadi sebuah gerakan politik yang mengancam kemapanan para pendukung penguasa. Indikasinya bisa terlihat dari peristiwa deportasi dari Hongkong, dan pembatalan ceramah di PLN Disjaya. Ada tangan-tangan kekuasaan tak terlihat yang bermain di dua peristiwa tersebut.

Kelompok kedua ini bisa  menggerakkan dan memanfaatkan kelompok pertama. Jadi jangan kaget bila nanti akan muncul beberapa penolakan serupa di daerah lain. Tidak perlu disikapi dengan amarah, atau aksi balasan serupa.

Jangan pernah mau diprovokasi dan dibenturkan. Dengan begitu mereka tidak  mendapat justifikasi bahwa umat Islam memang radikal, karena itu layak ditindak.

Kelompok pendukung penguasa ini, sedang paranoid. Rangkaian peristiwa yang terjadi belakangan ini dengan jelas menunjukkan hal itu.

Masifnya publikasi survei yang menyatakan Jokowi tetap paling unggul secara elektabilitas. Pencopotan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, berbagai manuver penguasa di pilkada, terutama di Jawa, termasuk terus direcokinya berbagai program kerja dan anggaran Anies-Sandi,  menunjukkan mereka sedang mencoba mencegah umat melakukan konsolidasi. Berbagai potensi munculnya kelompok penentang, sekecil apapun, harus dicegah.

*Penetrasinya sangat luas*

Bila melihat hasil survei, elektabilitas Jokowi sebagai _incumbent_ tidak terlalu mengesankan (30-42 persen). Kabar baiknya  belum ada figur alternatif  yang potensial sebagai penantang, kecuali Prabowo. Figur-figur potensial lainnya seperti Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan, untuk sementara dapat dinetralkan.

Namun belajar dari kasus Pilkada DKI, ketika umat bersatu, elektabilitas seorang _incumbent_ yang sangat perkasa seperti Ahok pun,  bisa diporak porandakan. Ahok saat itu memiliki elektabilitas selalu di atas angka 50 persen saja bisa tumbang. Apalagi  bila angkanya lebih rendah. Jadi konsolidasi umat sejak dini harus dicegah.

Tanda-tanda bahwa konsolidasi umat  terus menguat dapat terlihat dari Reuni Alumni 212 dan Aksi Bela Palestina. Jutaan orang bisa dikumpulkan, cukup dengan undangan via media sosial.

Begitu pula halnya dengan bubarnya pasangan Deddy Mizwar-Achmad Syaichu di Jabar. PKS, PAN dan Gerindra harus mengalah dan memenuhi tekanan simpul umat  yang tidak menghendaki PKS, dan PAN berkoalisi dengan Demokrat. Partai besutan SBY itu dimusuhi karena mendukung Perppu Ormas dan ditengarai akan mengusung Jokowi.

Motor dari berbagai aksi tersebut adalah Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI yang sekarang sudah berubah nama menjadi GNPF Ulama. Kelompok penekan ini ternyata makin solid  kendati salah satu pentolannya Habib Rizieq Shihab harus mengasingkan diri ke Arab Saudi.

GNPF Ulama ini menjadi simpul umat yang sangat kuat terutama di perkotaan. Namun sejauh ini mereka relatif belum berhasil masuk ke kelompok Islam tradisional, khususnya Nahdlatul Ulama (NU). Dalam beberapa kesempatan Ketua GNPF Bachtiar Nasir juga mengalami penolakan dari Banser NU.

Secara struktural Pengurus Besar (PB) NU di bawah pimpinan KH Said Agil Siroj sudah berhasil dirangkul pemerintah. Namun NU kultural banyak yang tidak sepaham dengan Said Agil dan   terlibat aktif berbagai aksi yang dimotori GNPF.

Jadi dalam peta politik makro, posisi umat Islam  terbelah. Kelompok-kelompok Islam perkotaan menjadi penentang kuat Jokowi. Sementara kelompok tradisional sebagian besar menjadi pendukung Jokowi.

Munculnya Abdul Somad dikhawatirkan dapat mengubah peta.  Secara tradisi maupun amaliahnya, Somad sesungguhnya termasuk dalam kelompok "tradisional"

Dia dibesarkan di sekolah yang dikelola oleh Alwashliyah yang secara amaliah dekat dengan NU. Dia juga pernah menjadi Sekretaris  Lembaga Bahtsul Masa’il  NU Riau (2009-2014).

Dengan latar belakang tradisi dan amaliahnya yang bisa disebut sebagai ahlussunnah wal jamaah (berqunut, maulid dan tahlil), menariknya Abdul Somad sangat mengagumi Presiden Turki Erdogan. Abdul Somad juga mendukung Gerakan 212, meskipun tidak pernah hadir. Dia bersuara lantang soal Palestina.

Dengan bahasa yang mudah, lucu, tapi dengan penguasaan ilmu agama yang begitu luas dan dalam,  Somad menjadi da’i yang bisa diterima di semua kalangan.

Dia juga menjadi Ustad Zaman Now yang digandrungi generasi milenial. Dia besar karena media sosial. Ratusan ceramahnya diunggah oleh para pengagumnya di berbagai platform medsos, dan ditonton jutaan orang.

Dia diundang ke berbagai penjuru tanah air, mulai dari pengajian biasa, kelompok majelis taklim, pejabat sipil maupun militer di daerah.  Somad sudah menjadi ustad berjuta umat.

Kendati lucu, tapi prinsip dan aqidah Abdul Somad sangat tegas. Dia misalnya pernah menyatakan bahwa sebagai muslim, wajib taat kepada Allah SWT, Rasul dan Ulil Amri (Penguasa). Namun dia tidak hanya berhenti disitu. Dia memberi catatan penguasa yang ditaati adalah penguasa yang amanah dan adil. Tidak asal penguasa.

Somad juga sering mengingatkan pentingnya umat bersatu dalam sebuah jamaah, hanya dengan begitu, musuh-musuh Islam akan takut.

Kian membesarnya pendukung Abdul Somad  inilah yang tampaknya ditakutkan oleh penguasa. Ceramahnya yang selalu dihadiri ribuan jamaah dikhawatirkan bisa menjadi momentum konsolidasi umat.

Somad sudah menjadi _solidarity maker_. Dia mengambil alih kekosongan ruang umat yang membutuhkan seorang ulama yang perilaku dan kata-katanya  bisa dipercaya.

Bagi kelompok yang paranoid, fenomena Abdul Somad ini sangat menakutkan. Mereka melakukan pendekatan "memukul" bukan "merangkul."

Pendekatan represif  seperti pada masa Orde Baru, sudah terbukti gagal diterapkan oleh rezim ini ketika menghadapi berbagai Aksi Bela Islam. Bila hal itu juga diterapkan kepada Abdul Somad, dipastikan akan menemui kegagalan serupa. Perlawanan kepada penguasa akan semakin membesar. Sudah waktunya untuk berubah.
End
30/12/17#Copas

Rabu, 27 Desember 2017

*DAYA RUSAK USTADZ ABDUL SOMAD LC. MA* #Copas

_By : Muhammad Ilham_

*"Sombong di hadapan orang sombong adalah sedekah"*

Tetiba mata orang terhenyak, para setan pemikiran gemetar, racun-racun informasi yang mereka hidup dan makan darinya tiba-tiba luruh. Umat yang dahulunya pengecut, takut - takut dan rendah diri, ini berani berdiri tampil kehadapan. Umat yang dahulunya terpecah, gemar berbeda, dan cuek durjana, kini saling menatap muka, berpelukan, berangkulan dalam tangis ukhuwah mereka sadar.

Segenap dada terangkat, dagu mendongak. Umat yang terpinggirkan itu kini menengah, matanya mulai terbuka.. dilihatnya kini mereka tak punya apa - apa.. pakaian yang mereka beli, makanan yang mereka konsumsi, bahkan air yang mereka minum harus mereka bayar, bukan milik mereka. Pikiran mereka terbuka, bahwa selama ini pihak luar bertepuk tangan atas sikap umat ini yang sudah dipelajari yakni suka terpecah. Tapi ustadz itu muncul, kekuatan yang terserak itu berhimpun.

Para aktor bayaran inlander tetiba kehilangan pekerjaannya, mereka resah dan gelisah. Nampak kiamat didepan mata. Bagaimana tidak, jualan - jualan mereka bakal tidak laku, akan sepi, dan tutup, seperti tutupnya banyaknya toko modern retail belakangan ini.

Bagaimana tidak? Saat Agen-agen islamophobia bekerja keras memecah dan mengkotak-kotakan umat islam. Ustadz ini bicara tentang FPI dan mendukungnya, saat orang bersorai membubarkan HTI ustadznya ini membelanya, saat ikhwanul muslimin dituduh khawarij detil sekali ustadz itu bicara sejarah dan.. mendukungnya.. di hadapan jamaah Muhammadiyah, ustadz ini membawakan hadits - hadits NU, dihadapan jamaah NU ustadz ini membawakan pemahaman Muhammadiyah. Di hadapan orang anti maulid, ustadz ini menyampaikan dalil maulid, di hadapan pro maulid ustadz ini sampaikan dalil mengapa ada orang tidak mengikuti maulid, sehingga masing - masing umat yang lama terkukung dalam kotak kebisuan pakem, memahami, bahwa ajaran islam ini luas dan indah, dan kecurigaan -kecurigaan partisan sirna.
Ustadz ini menjadi katalisator bagi sebuah umat yang lama butuh pemersatu!

Maka, ustadz ini sungguh sangat merusak, merusak bangunan kerusakan yang dikerjakan dan didanai sejak lama. Agen-agen bayaran ini sudah berhasil merusak berbagai aspek. Mereka sudah berhasil dalam beragam program kerusakan, rusak kepercayaan muslim dengan agamanya, rusak kepribadian hingga terlepas dari agamanya, rusak ekonomi hingga miskin umatnya, rusak politiknya hingga orang-orang islam haters yang menguasainya, segala aspek dirusaknya dari level individu hingga negara, sehingga tercipta fragile society, rapuh.

Maka ustadz ini harus dicekal, wajib diboikot, dibully intinya di matikan karakternya. Berapa besar daya rusak seorang ustadz yang membangunkan umat raksasa yang tertidur?
Kalkulasi resikonya terlalu besar. Dicari-cari salahnya, maka dapetlah isu anti NKRI, intoleran, diskriminatif. Padahal yah.. ustadz ini di kalangan orang pergerakan, tidak pernah berafiliasi kepada organisasi apapun. Beliau justru pengurus NU, anggota MUI, hehe. Sayangnya dan kejamnya fitnah, semua tak melihat itu. Intinya Abdul Somad harus dimatikan, karakternya.

Maka ditolaklah ia di Bali, maka dipulangkanlah ia di Hongkong. Dikejar dipersekusi, diancam.. di medsos ia dibully, dihina dicaci.
Para agen setan kesurupan, mereka kehilangan akal dan cara, hingga sifat asli mereka keluar.

Tapi apa jawab ummat? Umat islam ini umat yang unik, makin ditekan makin bertenaga. Ustadz Abdul Somad makin difitnah, makin banyak diundang, makin banyak didengarkan.
Jadi kita berdoa saja sembari merapatkan barisan. Kita bangunkan umat yang lama tertidur ini, agar bangun dan bangkit!

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

_Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik._
*_Surat Ali 'Imran, Ayat 110_*



Batangtoru,
27 Desember 2017
PORTAL ISLAM / noreply@blogger.com

"TOLERANSI SESUKAMU"

(Oleh: Ustadz Felix Siauw)

Aturan agamaku haruskan Muslim DIPIMPIN oleh Muslim juga, itu kau tuduh intoleransi, katamu itu tafsir yang salah, sementara kau sendiri berlagak jadi ahli tafsir padahal agamamu bukan agamaku.

Giliran engkau merayakan keyakinanmu bahwa TUHAN LAHIR pada satu hari, kami yang membiarkan engkau merayakan sesukamu, engkau katakan tidak cukup, bagimu toleransi harus ikut-ikutan.

Al-Qur'an memberitahu kami pembeda manusia adalah iman, maka yang tidak beriman adalah KAFIR, sekali lagi itu kau anggap sebagai intoleransi. Kau merasa keberatan atas istilah agama orang.

Tak cukup itu, engkau ingin mengobok-obok agama orang lain, mengatur-atur sesukamu, istilah kafir tidak boleh dipakai katamu, kalau sudah begitu baru toleran, engkau selalu mau MENANG SENDIRI.

Jadi toleransi adalah bila ikut aturanmu, sedangkan bila bertentangan dengan aturanmu maka itu intoleran. Dan sudah pasti akan dilabeli tambahannya, radikal, anti-Pancasila, Anti-NKRI.

Bila Muslim yang melakukan itu namanya PERSEKUSI, harus ditindak tegas. Bila yang melakukan mereka, itu namanya aksi bela negara, pokoknya kalau sudah pakai nama NKRI, hukum miliknya.

Bila Muslim bertahan pada aturan agamanya maka itu intoleransi, tapi bila mereka seenaknya menentukan aturan, itu dianggap melindungi keberagaman, yang penting teriak dulu NKRI harga mati.

Begitu jadinya, protes atas kaum Nabi Luth, juga masuk intoleransi. Toleransi adalah bila engkau mau meninggalkan syariah Islam, meninggalkan keyakinan sebagai seorang Muslim.

Lha, bila itu semua diikuti, so pasti tak ada lagi BEDAnya kita dengan yang bukan Muslim. Kalau begitu untuk apa kita bersyahadat? Itu sebenarnya yang mereka inginkan, NEGARA TANPA AGAMA.

*dari fb Ustadz Felix Siauw (27/12/2017)