Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..." (Kahlil Gibran)
"Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini... pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang" (Kahlil Gibran)
iklan
Jumat, 15 April 2011
PBB-mu Tips Agar Lancar
Sabtu, 16 April 2011 08:23 WIb

Image: corbis.com
JAKARTA - Dua hari lagi, kamu yang duduk di bangku kelas XII akan mengikuti ujian nasional (UN). Setelah sekian lama mempersiapkan diri, apa lagi yang dapat kamu lakukan agar ujianmu lancar? Simak contekannya!
- Menjelang hari pertama UN, tidurlah lebih cepat dari biasanya agar kondisi tubuhmu bugar dan tidak mengantuk ketika mengerjakan soal-soal ujian.
Image: corbis.com
JAKARTA - Dua hari lagi, kamu yang duduk di bangku kelas XII akan mengikuti ujian nasional (UN). Setelah sekian lama mempersiapkan diri, apa lagi yang dapat kamu lakukan agar ujianmu lancar? Simak contekannya!
- Menjelang hari pertama UN, tidurlah lebih cepat dari biasanya agar kondisi tubuhmu bugar dan tidak mengantuk ketika mengerjakan soal-soal ujian.
Kahlil Gibran
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Khalil Gibran

Lahir Gibrān Khalīl Gibrān bin Mikhā'īl bin Sa'ad
6 Januari 1883
Bsharri, Mount Lebanon Mutasarrifate,Ottoman Syria (sekarang Lebanon)
Meninggal 10 April 1931 (umur 48)
New York, Amerika Serikat
Pekerjaan Penyair
Pelukis
Pemahat
Penulis
Filsuf
Pakar teologi
Seniman seni rupa
Kebangsaan Lebanon Amerika
Aliran Sastra Puisi
Parabel
Cerita pendek
Angkatan Mahjar
New York Pen League
Karya terkenal The Prophet
Khalil Gibran (juga dieja Khalil Gibran; lahir Gibran Khalil Gibran, bahasa Arab: جبران خليل جبران, lahir di Lebanon, 6 Januari 1883 – meninggal di New York City,Amerika Serikat, 10 April 1931 pada umur 48 tahun) adalah seorang seniman, penyair, dan penulis Lebanon Amerika. Ia lahir di Lebanon (saat itu masuk Provinsi Suriah di Khilafah Turki Utsmani) dan menghabiskan sebagian besar masa produktifnya di Amerika Serikat.
Daftar isi [sembunyikan]
1 Kehidupan awal
1.1 Libanon
1.2 Amerika Serikat
2 Karya dan kepengarangan
3 Kematian
4 Pranala luar
[sunting]Kehidupan awal
[sunting]Libanon
Kahlil Gibran lahir di Basyari, Libanon dari keluarga katholik-maronit. Bsharri sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak memengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.
Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Beirut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat sejak tahun 1898 sampai 1901.
Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Kesultanan Usmaniyah yang sudah lemah, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.
Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.
Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, "Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan diterbitkan di New York City, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang menyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronit. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.
Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.
Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

Foto Kahlil Gibran oleh Fred Holland Day, skt. 1898.
Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.
Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.
[sunting]Amerika Serikat
Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.
Sebelum tahun 1912 "Broken Wings" telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.
Pengaruh "Broken Wings" terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama "Broken Wings" ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.
Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaanbahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Suriahyang tinggal di Amerika.
Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat. ocix_81
[sunting]Karya dan kepengarangan
Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, "The Madman", "His Parables and Poems". Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam "The Madman". Setelah "The Madman", buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah "Twenty Drawing", 1919; "The Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.
Sebelum terbitnya "Sang Nabi", hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.
Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca "Sang Nabi". Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.
Gibran menyelesaikan "Sand and Foam" tahun 1926, dan "Jesus the Son of Man" pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, "Lazarus" pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan "The Earth Gods" pada tahun 1931. Karyanya yang lain "The Wanderer", yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain "The Garden of the Propeth".
[sunting]Kematian

Memorial Kahlil Gibran di Washington, D.C.
Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hepatis dan tuberkulosis, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village.
Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.
Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Mar Sarkis, sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah.
Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."
Khalil Gibran
Lahir Gibrān Khalīl Gibrān bin Mikhā'īl bin Sa'ad
6 Januari 1883
Bsharri, Mount Lebanon Mutasarrifate,Ottoman Syria (sekarang Lebanon)
Meninggal 10 April 1931 (umur 48)
New York, Amerika Serikat
Pekerjaan Penyair
Pelukis
Pemahat
Penulis
Filsuf
Pakar teologi
Seniman seni rupa
Kebangsaan Lebanon Amerika
Aliran Sastra Puisi
Parabel
Cerita pendek
Angkatan Mahjar
New York Pen League
Karya terkenal The Prophet
Khalil Gibran (juga dieja Khalil Gibran; lahir Gibran Khalil Gibran, bahasa Arab: جبران خليل جبران, lahir di Lebanon, 6 Januari 1883 – meninggal di New York City,Amerika Serikat, 10 April 1931 pada umur 48 tahun) adalah seorang seniman, penyair, dan penulis Lebanon Amerika. Ia lahir di Lebanon (saat itu masuk Provinsi Suriah di Khilafah Turki Utsmani) dan menghabiskan sebagian besar masa produktifnya di Amerika Serikat.
Daftar isi [sembunyikan]
1 Kehidupan awal
1.1 Libanon
1.2 Amerika Serikat
2 Karya dan kepengarangan
3 Kematian
4 Pranala luar
[sunting]Kehidupan awal
[sunting]Libanon
Kahlil Gibran lahir di Basyari, Libanon dari keluarga katholik-maronit. Bsharri sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak memengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.
Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Beirut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat sejak tahun 1898 sampai 1901.
Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Kesultanan Usmaniyah yang sudah lemah, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.
Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.
Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, "Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan diterbitkan di New York City, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang menyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronit. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.
Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.
Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.
Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.
[sunting]Amerika Serikat
Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.
Sebelum tahun 1912 "Broken Wings" telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.
Pengaruh "Broken Wings" terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama "Broken Wings" ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.
Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaanbahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Suriahyang tinggal di Amerika.
Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat. ocix_81
[sunting]Karya dan kepengarangan
Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, "The Madman", "His Parables and Poems". Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam "The Madman". Setelah "The Madman", buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah "Twenty Drawing", 1919; "The Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.
Sebelum terbitnya "Sang Nabi", hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.
Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca "Sang Nabi". Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.
Gibran menyelesaikan "Sand and Foam" tahun 1926, dan "Jesus the Son of Man" pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, "Lazarus" pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan "The Earth Gods" pada tahun 1931. Karyanya yang lain "The Wanderer", yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain "The Garden of the Propeth".
[sunting]Kematian
Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hepatis dan tuberkulosis, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village.
Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.
Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Mar Sarkis, sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah.
Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."
Sumber : Wikipedia
8 Cara Berdamai dengan Ibu Mertua Menyebalkan
Jum'at, 15 April 2011 - 11:57 wib
Fitri Yulianti - Okezone

(Foto: gettyimages)
SEBAGIAN orang beruntung memiliki ibu mertua yang menyenangkan. Namun, sebagian malang lantaran ibu mertuanya bersikap menyebalkan dan makin tak tertahankan. Apakah Anda bagian dari mereka?
Bagi Anda yang terjebak dalam situasi ibu mertua menyebalkan, berikut beberapa tip bermanfaat yang diulas Allwomenstalk.
Pisahkan diri
Anda mungkin merasa perlu untuk menjauh dari situasi tersebut untuk memberikan diri waktu memikirkan banyak hal hingga bisa memutuskan rencana untuk berdamai dengan ibu mertua. Berikan sinyal agar dia tahu bahwa Anda memerlukan "time-out" dari ketegangan ini.
Jangan ambil secara pribadi
Perilaku ibu mertua Anda kemungkinan besar tidak ditujukan secara pribadi kepada Anda, sebab sebagian mereka tidak akan pernah puas dengan pilihan anak laki-lakinya. Karena Anda mencintai suami, cobalah untuk bersikap tenang di depannya.
Ubah pikiran
Jangan terpengaruh dengan sikap ibu mertua. Camkan dalam pikiran bahwa perilakunya tidak akan berdampak pada keadaan rumah dan kemampuan Anda untuk menjadi istri dan ibu yang hebat.
Tugas suami
Adalah tanggung jawab suami Anda untuk memimpin dan melindungi keluarga Anda, bahkan dari ibunya sendiri. Dia tidak pernah boleh mengizinkan ibunya untuk membuat komentar negatif atau bertindak buruk terhadap Anda. Pastikan dia mengerti bagaimana perasaan Anda tentang situasi dan perannya di dalam situasi tersebut.
Mengunci pintu
Jangan pernah menyerahkan kunci cadangan rumah ke mertua Anda. Kunjungan tanpa pemberitahuan tidak selalu merupakan kunjungan yang bisa diterima. Dan jika Anda atau suami memberikan kunci rumah, sama artinya Anda menyerahkan kekuatan untuk mengusik.
Berbicara dengannya
Anda bisa memilih untuk berkata jujur pada ibu mertua. Katakan padanya bahwa tindakannya memengaruhi keluarga Anda. Mungkin dia bertindak demikian lantaran tidak tahu bagaimana semestinya peran ibu mertua.
Selalu menjadi orang yang lebih baik
Hal ini mungkin sulit tetapi jangan pernah mendekati ibu mertua ketika Anda diliputi kemarahan. Hadapi situasi dengan kepala dingin dan pikiran terbuka, dan selalu mengambil jalan terbaik.
Memahami cara berpikirnya
Tidak peduli seberapa besar anak-anak kita tumbuh, mereka tetap anak-anak kita. Ibu mertua Anda mungkin mengalami kesulitan membiarkan anaknya tumbuh dewasa. Bayangkan diri Anda dalam situasi demikian dan cobalah berpikir dari perspektif tersebut.
Berdamai dengan perbedaan Anda dengan ibu mertua mungkin tidak mudah atau cepat, tetapi sebuah hasil yang mendamaikan bukan mustahil tercapai. Apakah Anda benar-benar ingin menarik garis dan meminta suami untuk memilih tegas antara ibunya atau Anda? Berhati-hatilah dengan ultimatum, Anda mungkin tidak menyukai hasilnya.
Fitri Yulianti - Okezone
(Foto: gettyimages)
SEBAGIAN orang beruntung memiliki ibu mertua yang menyenangkan. Namun, sebagian malang lantaran ibu mertuanya bersikap menyebalkan dan makin tak tertahankan. Apakah Anda bagian dari mereka?
Bagi Anda yang terjebak dalam situasi ibu mertua menyebalkan, berikut beberapa tip bermanfaat yang diulas Allwomenstalk.
Pisahkan diri
Anda mungkin merasa perlu untuk menjauh dari situasi tersebut untuk memberikan diri waktu memikirkan banyak hal hingga bisa memutuskan rencana untuk berdamai dengan ibu mertua. Berikan sinyal agar dia tahu bahwa Anda memerlukan "time-out" dari ketegangan ini.
Jangan ambil secara pribadi
Perilaku ibu mertua Anda kemungkinan besar tidak ditujukan secara pribadi kepada Anda, sebab sebagian mereka tidak akan pernah puas dengan pilihan anak laki-lakinya. Karena Anda mencintai suami, cobalah untuk bersikap tenang di depannya.
Ubah pikiran
Jangan terpengaruh dengan sikap ibu mertua. Camkan dalam pikiran bahwa perilakunya tidak akan berdampak pada keadaan rumah dan kemampuan Anda untuk menjadi istri dan ibu yang hebat.
Tugas suami
Adalah tanggung jawab suami Anda untuk memimpin dan melindungi keluarga Anda, bahkan dari ibunya sendiri. Dia tidak pernah boleh mengizinkan ibunya untuk membuat komentar negatif atau bertindak buruk terhadap Anda. Pastikan dia mengerti bagaimana perasaan Anda tentang situasi dan perannya di dalam situasi tersebut.
Mengunci pintu
Jangan pernah menyerahkan kunci cadangan rumah ke mertua Anda. Kunjungan tanpa pemberitahuan tidak selalu merupakan kunjungan yang bisa diterima. Dan jika Anda atau suami memberikan kunci rumah, sama artinya Anda menyerahkan kekuatan untuk mengusik.
Berbicara dengannya
Anda bisa memilih untuk berkata jujur pada ibu mertua. Katakan padanya bahwa tindakannya memengaruhi keluarga Anda. Mungkin dia bertindak demikian lantaran tidak tahu bagaimana semestinya peran ibu mertua.
Selalu menjadi orang yang lebih baik
Hal ini mungkin sulit tetapi jangan pernah mendekati ibu mertua ketika Anda diliputi kemarahan. Hadapi situasi dengan kepala dingin dan pikiran terbuka, dan selalu mengambil jalan terbaik.
Memahami cara berpikirnya
Tidak peduli seberapa besar anak-anak kita tumbuh, mereka tetap anak-anak kita. Ibu mertua Anda mungkin mengalami kesulitan membiarkan anaknya tumbuh dewasa. Bayangkan diri Anda dalam situasi demikian dan cobalah berpikir dari perspektif tersebut.
Berdamai dengan perbedaan Anda dengan ibu mertua mungkin tidak mudah atau cepat, tetapi sebuah hasil yang mendamaikan bukan mustahil tercapai. Apakah Anda benar-benar ingin menarik garis dan meminta suami untuk memilih tegas antara ibunya atau Anda? Berhati-hatilah dengan ultimatum, Anda mungkin tidak menyukai hasilnya.
Penilaian Adipura Kalteng Rampung
Ilustrasi
PALANGKA RAYA - Tim penilai penghargaan lingkungan Adipura, sudah menyelesaikan penilaian. Mereka telah melakukan penilaian di 13 kabupaten dan satu kota di Kalteng.
Muhammad Zainal, salah satu anggota tim penilai Adipura, mengatakan saat ini, Kamis (14/4/2011) tim mulai lagi mengevaluasi hasil penilaian tersebut.
Nantinya, jelasnya, akan diketahui daerah mana yang mendapatkan nilai paling tinggi. Faktor yang menjadi penilaian di antaranya tempat pembuangan sampah, rumah sakit, puskesmas, penghijauan, taman dan tata kota.
Namun yang sangat penting adalah bukti komitmen bupati dan wali kota dalam kebijakannya terkait lingkungan. "Kalau sudah diketahui daerah yang paling tinggi nilainya, nanti ada tim verifikasi lagi yang turun ke daerah itu. Pengumumannya nanti rencananya Juni, bertepatan Hari Lingkungan Hidup," kata Zainal.
Penghargaan Adipura adalah penghargaan bergengsi di bidang lingkungan. Selama lima tahun terakhir, piala Adipura diraih oleh Kabupaten Kotawaringin Barat. (bpost.co.id/ sampitonline.com)
Penilaian Adipura Kalteng Rampung
Ilustrasi
PALANGKA RAYA - Tim penilai penghargaan lingkungan Adipura, sudah menyelesaikan penilaian. Mereka telah melakukan penilaian di 13 kabupaten dan satu kota di Kalteng.
Muhammad Zainal, salah satu anggota tim penilai Adipura, mengatakan saat ini, Kamis (14/4/2011) tim mulai lagi mengevaluasi hasil penilaian tersebut.
Nantinya, jelasnya, akan diketahui daerah mana yang mendapatkan nilai paling tinggi. Faktor yang menjadi penilaian di antaranya tempat pembuangan sampah, rumah sakit, puskesmas, penghijauan, taman dan tata kota.
Namun yang sangat penting adalah bukti komitmen bupati dan wali kota dalam kebijakannya terkait lingkungan. "Kalau sudah diketahui daerah yang paling tinggi nilainya, nanti ada tim verifikasi lagi yang turun ke daerah itu. Pengumumannya nanti rencananya Juni, bertepatan Hari Lingkungan Hidup," kata Zainal.
Penghargaan Adipura adalah penghargaan bergengsi di bidang lingkungan. Selama lima tahun terakhir, piala Adipura diraih oleh Kabupaten Kotawaringin Barat. (bpost.co.id/ sampitonline.com)
Kamis, 14 April 2011
Bahan Impor Melangit, Para Chef Merintih
Kamis, 14 April 2011 - 19:19 wib
Fitri Yulianti - Okezone
Ikan salmon (Foto: Google)
PEMERINTAH Indonesia sedang gencar melakukan pembatasan barang impor. Para chef dan penikmat kuliner turut merasakan dampaknya.
Bagi masakan internasional, penggunaan bahan impor jelas memainkan peran penting. Guna mempertahankan cita rasa otentik, restoran akan menggunakan bahan-bahan yang didatangkan dari luar negeri. Alasannya bisa pula karena pasar lokal belum bisa menyediakan bahan dimaksud dengan kualitas sepadan barang impor. Salmon, misalnya.
"Salmon biasanya kita pakai untuk sushi. Enggak bisa kalau kita ganti bahan lain, karena tekstur dan rasa yang dihasilkan berbeda. Enggak ada yang bisa menyamakan salmon impor," tutur Agus, chef Financial Club yang juga anggota Association Culinary Professionals Indonesia (ACPI) kepada okezone usai peluncuran inovasi baru Kecap Pedas ABC di Restoran Penangbistro, Jalan Pakubuwono, Jakarta Selatan, Kamis (14/04/2011).
Namun sejak diberlakukan peraturan soal pembatasan barang impor, Agus mengatakan bahwa para chefmerintih lantaran salmon dan daging sapi-dua bahan impor yang banyak digunakan-sulit didapat.
"Saya juga enggak tahu kenapa? Mungkin ada pengetatan atau kita mau swasembada daging. Tadinya banyak, kita mau merek apa juga ada, tapi sekarang susah. Salmon malah sempat hilang. Begitu ada, harganya mahal," katanya.
Agus mencontohkan, harga daging sirloin yang awalnya Rp65 ribu per kilogram sekarang bisa mencapai Rp94 ribu per kilogram.
Sebagai solusi guna menjawab keinginan konsumen, kini restoran mengaku harus cepat berburu bahan impor dari pemasok dan menggunakan bahan daging beku.
"Kami pakai produk frozen dari ‘supplier warehouse’. Dan karena jumlahnya terbatas, kadang konsumen restoran kehabisan makanan dengan menu ini," sahut Chandra Yudasswara, anggota Association Culinary Professionals Indonesia (ACPI) kepada okezone pada kesempatan yang sama.
Sementara soal solusi mengganti bahan impor dengan produk lokal, Chandra mengatakan, "Ikan patin dan lele sepertinya sedang dikembangkan, mungkin yang mendekati dan cocok untuk sushi itu belut ya."
Agus sendiri punya pendapat berbeda.
"Sebenarnya agak susah kalau mau disamakan, karena daging lokal itu biasanya keras akibat pola makan ternak yang beda, juga perlakuan peternak luar negeri. Ternak mereka enggak stres karena dibiarkan hidup bebas. Nah, ini yang bikin dagingnya juga lebih enak ketika diolah," ujar Agus.
Fitri Yulianti - Okezone
Ikan salmon (Foto: Google)
PEMERINTAH Indonesia sedang gencar melakukan pembatasan barang impor. Para chef dan penikmat kuliner turut merasakan dampaknya.
Bagi masakan internasional, penggunaan bahan impor jelas memainkan peran penting. Guna mempertahankan cita rasa otentik, restoran akan menggunakan bahan-bahan yang didatangkan dari luar negeri. Alasannya bisa pula karena pasar lokal belum bisa menyediakan bahan dimaksud dengan kualitas sepadan barang impor. Salmon, misalnya.
"Salmon biasanya kita pakai untuk sushi. Enggak bisa kalau kita ganti bahan lain, karena tekstur dan rasa yang dihasilkan berbeda. Enggak ada yang bisa menyamakan salmon impor," tutur Agus, chef Financial Club yang juga anggota Association Culinary Professionals Indonesia (ACPI) kepada okezone usai peluncuran inovasi baru Kecap Pedas ABC di Restoran Penangbistro, Jalan Pakubuwono, Jakarta Selatan, Kamis (14/04/2011).
Namun sejak diberlakukan peraturan soal pembatasan barang impor, Agus mengatakan bahwa para chefmerintih lantaran salmon dan daging sapi-dua bahan impor yang banyak digunakan-sulit didapat.
"Saya juga enggak tahu kenapa? Mungkin ada pengetatan atau kita mau swasembada daging. Tadinya banyak, kita mau merek apa juga ada, tapi sekarang susah. Salmon malah sempat hilang. Begitu ada, harganya mahal," katanya.
Agus mencontohkan, harga daging sirloin yang awalnya Rp65 ribu per kilogram sekarang bisa mencapai Rp94 ribu per kilogram.
Sebagai solusi guna menjawab keinginan konsumen, kini restoran mengaku harus cepat berburu bahan impor dari pemasok dan menggunakan bahan daging beku.
"Kami pakai produk frozen dari ‘supplier warehouse’. Dan karena jumlahnya terbatas, kadang konsumen restoran kehabisan makanan dengan menu ini," sahut Chandra Yudasswara, anggota Association Culinary Professionals Indonesia (ACPI) kepada okezone pada kesempatan yang sama.
Sementara soal solusi mengganti bahan impor dengan produk lokal, Chandra mengatakan, "Ikan patin dan lele sepertinya sedang dikembangkan, mungkin yang mendekati dan cocok untuk sushi itu belut ya."
Agus sendiri punya pendapat berbeda.
"Sebenarnya agak susah kalau mau disamakan, karena daging lokal itu biasanya keras akibat pola makan ternak yang beda, juga perlakuan peternak luar negeri. Ternak mereka enggak stres karena dibiarkan hidup bebas. Nah, ini yang bikin dagingnya juga lebih enak ketika diolah," ujar Agus.
Somber : Okezone.com
Masak Sih Ulat Bulu Bagian dari Bioteror?
M Budi Santosa
Selasa, 12 April 2011 - 13:57 wib

PENELITI Intitut Pertanian Bogor (IPB) Aunu Rauf memastikan bahwa ulat bulu yang menyerang sejumlah wilayah di Jawa Timur seperti Probolinggo dan Mojokerto adalah jenis ulat yang tidak biasa. Ulat ini hanya muncul dalam rentang puluhan tahun.
Lantas bisik-bisik mengenai wabah ulat bulu ini pun dikaitkan dengan teori konspirasi. Bahwasanya ada pihak-pihak tertentu yang sengaja menebar wabah ini untuk menghancurkan ketahanan pangan di wilayah tersebut. Termasuk juga untuk menghancurkan perekonomian rakyat karena ulat bulu akan merusak berbagai tanaman dan buah-buahan seperti mangga.
Lantas benarkan ini bagian dari bioteror? Mungkin asumsi itu masih terlalu dini. Mesti ada upaya investigasi lebih lanjut. Mungkin pendapat Auni Rauf lebih masuk akal untuk saat ini. Dia menegaskan bahwa fenomena ulat bulu lebih disebabkan oleh fenomena alam. Ulat itu berkembangbiak begitu hebat karena tidak ada musuh alamiahnya. Mungkin dalam Ilmu Biologi siklus rantai makanan sudah semakin berubah dan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Mungkin orang yang beranggapan adanya bioteror juga tidak bisa dipersalahkan begitu saja. Kalau kita ingat kasus flu burung, maka bisa jadi masalah ulat pun bisa dijadikan lahan bisnis. Jika flu burung menjadi ladang bisnis negara maju untuk menjual Tamiflu atau obat antiflu burung, maka mungkin saja ulat bulu sengaja dikembangbiakan sedemikian rupa agar ada obat antiulat bulu yang dijual.
Akan tetapi, lagi-lagi, pikiran tentang adanya bioteror masih harus dilakukan kajian mendalam dan tidak gegabah melarikan isu itu ke sana. Pandangan perubahan iklim dan perubahan ekosistem bisa menjadi argumen yang ampuh.
Kondisi ulat bulu hanyalah sepenggal potret bahwa ekosistem kini berubah drastis. Banyaknya hama tanaman pun tidak bisa diberantas dengan mengandalkan siklus rantai makanan. Kalau dulu kita selalu tahu, jika ada tikus, maka dia akan dimakan oleh ular, kemudian ular akan dimakan oleh burung dan seterusnya. Rupayanya pelajaran ini sudah tidak klop lagi.
Bahkan para petani pun kini lebih mengandalkan obat-obatan kimiawi untuk memberantas hama itu. Insektisida salah satu yang menjadi pilihan utama. Ujung-ujungnya, makin banyak makanan berzat kimia yang dalam kadar tertentu bisa membahayakan tubuh manusia.
Melihat fenomena ulat bulu dan juga hama-hama tanaman lainnya, sudah sepantasnya dilakukan langkah konkret dan terpadu untuk menanggulanginya. Bagaimanapun hama yang begitu massal akan makin mengganggu kehidupan warga. Petani dirugikan karena tanamannya hancur. Warga lainnya pun makin gelisah karena hama itu menebar hingga ke perkampungan dan perumahan. Belum lagi jika ada penyakit bawaan akibat dari banyaknya hama itu.
Kini, merebaknya hama ulat bulu sudah mancakup sebagian wilayah Jawa Timur dan Bali. Bahkan Bekasi sudah mulai ada yang terkena. Penanganan dari dinas terkait dengan melakukan langkah penyemprotan antihama dan lainnya perlu digalakkan. Koordinasi ini membutuhkan saling pengertian antardaerah, antarprovinsi. Tak perlu jauh-jauh berpikir soal bioteror, yang dibutuhkan cuma langkah konkret untuk mengatasinya.
Semoga dengan berjalan waktu dan proses metamorfosis dari ulat ke kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu segera terjadi. Sehingga berbagai daerah yang sebelumnya mengerikan karena banyaknya ulat bulu akan berubah menjadi daerah yang indah karena banyaknya kupu-kupu beraneka warna.
Selasa, 12 April 2011 - 13:57 wib
PENELITI Intitut Pertanian Bogor (IPB) Aunu Rauf memastikan bahwa ulat bulu yang menyerang sejumlah wilayah di Jawa Timur seperti Probolinggo dan Mojokerto adalah jenis ulat yang tidak biasa. Ulat ini hanya muncul dalam rentang puluhan tahun.
Lantas bisik-bisik mengenai wabah ulat bulu ini pun dikaitkan dengan teori konspirasi. Bahwasanya ada pihak-pihak tertentu yang sengaja menebar wabah ini untuk menghancurkan ketahanan pangan di wilayah tersebut. Termasuk juga untuk menghancurkan perekonomian rakyat karena ulat bulu akan merusak berbagai tanaman dan buah-buahan seperti mangga.
Lantas benarkan ini bagian dari bioteror? Mungkin asumsi itu masih terlalu dini. Mesti ada upaya investigasi lebih lanjut. Mungkin pendapat Auni Rauf lebih masuk akal untuk saat ini. Dia menegaskan bahwa fenomena ulat bulu lebih disebabkan oleh fenomena alam. Ulat itu berkembangbiak begitu hebat karena tidak ada musuh alamiahnya. Mungkin dalam Ilmu Biologi siklus rantai makanan sudah semakin berubah dan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Mungkin orang yang beranggapan adanya bioteror juga tidak bisa dipersalahkan begitu saja. Kalau kita ingat kasus flu burung, maka bisa jadi masalah ulat pun bisa dijadikan lahan bisnis. Jika flu burung menjadi ladang bisnis negara maju untuk menjual Tamiflu atau obat antiflu burung, maka mungkin saja ulat bulu sengaja dikembangbiakan sedemikian rupa agar ada obat antiulat bulu yang dijual.
Akan tetapi, lagi-lagi, pikiran tentang adanya bioteror masih harus dilakukan kajian mendalam dan tidak gegabah melarikan isu itu ke sana. Pandangan perubahan iklim dan perubahan ekosistem bisa menjadi argumen yang ampuh.
Kondisi ulat bulu hanyalah sepenggal potret bahwa ekosistem kini berubah drastis. Banyaknya hama tanaman pun tidak bisa diberantas dengan mengandalkan siklus rantai makanan. Kalau dulu kita selalu tahu, jika ada tikus, maka dia akan dimakan oleh ular, kemudian ular akan dimakan oleh burung dan seterusnya. Rupayanya pelajaran ini sudah tidak klop lagi.
Bahkan para petani pun kini lebih mengandalkan obat-obatan kimiawi untuk memberantas hama itu. Insektisida salah satu yang menjadi pilihan utama. Ujung-ujungnya, makin banyak makanan berzat kimia yang dalam kadar tertentu bisa membahayakan tubuh manusia.
Melihat fenomena ulat bulu dan juga hama-hama tanaman lainnya, sudah sepantasnya dilakukan langkah konkret dan terpadu untuk menanggulanginya. Bagaimanapun hama yang begitu massal akan makin mengganggu kehidupan warga. Petani dirugikan karena tanamannya hancur. Warga lainnya pun makin gelisah karena hama itu menebar hingga ke perkampungan dan perumahan. Belum lagi jika ada penyakit bawaan akibat dari banyaknya hama itu.
Kini, merebaknya hama ulat bulu sudah mancakup sebagian wilayah Jawa Timur dan Bali. Bahkan Bekasi sudah mulai ada yang terkena. Penanganan dari dinas terkait dengan melakukan langkah penyemprotan antihama dan lainnya perlu digalakkan. Koordinasi ini membutuhkan saling pengertian antardaerah, antarprovinsi. Tak perlu jauh-jauh berpikir soal bioteror, yang dibutuhkan cuma langkah konkret untuk mengatasinya.
Semoga dengan berjalan waktu dan proses metamorfosis dari ulat ke kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu segera terjadi. Sehingga berbagai daerah yang sebelumnya mengerikan karena banyaknya ulat bulu akan berubah menjadi daerah yang indah karena banyaknya kupu-kupu beraneka warna.
Sumber : Okezone.com
Langganan:
Postingan (Atom)