iklan

Sabtu, 25 Februari 2012

Sekilas Info.........

*info***
TERNYATA apabila kita MARAH selama 5 menit saja, imunitas sistem tubuh kita akan depressi 6 jam.

Dendam, menyimpan kepahitan, imunitas tubuh kita mati. Disitulah bermula awal segala penyakit, STRESS, Kolesterol tinggi, pemicu Darah Tinggi, Jantung, rheumatik, arthritis, Stroke (perdarahan/penyumbatan pembuluh darah).

Jika kita sering membiarkan diri kita STRESS, maka kita sering mengalami GANGGUAN PENCERNAAN.

Jika kita sering merasa KHAWATIR, maka kita mudah terkena penyakit NYERI PUNGGUNG.

Jika MUDAH TERSINGGUNG, maka kita akan cenderung terkena penyakit INSOMNIA (susah tidur).

Jika sering mengalami KEBINGUNGAN, maka kita akan terkena GANGGUAN TULANG BELAKANG BAGIAN BAWAH.

Jika sering membiarkan diri kita merasa TAKUT yang BERLEBIHAN, maka kita akan mudah terkena penyakit GINJAL.

Jika suka ber-NEGATIVE THINKING, maka kita akan mudah terkena DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna).

Jika kita mudah EMOSI dan cendrung PEMARAH, maka kita bisa rentan terhadap penyakit HEPATITIS.

Jika kita sering merasa APATIS (tidak pernah peduli) terhadap lingkungan, maka kita akan berpotensi mengalami PENURUNAN KEKEBALAN TUBUH.

Jika sering MENGANGGAP SEPELE semua persoalan, maka hal ini bisa mengakibatkan penyakit DIABETES.

Jika kita sering merasa KESEPIAN, maka kita bisa terkena penyakit DEMENSIA SENELIS (memori dan kontrol fungsi tubuh berkurang).

Jika sering BERSEDIH dan merasa selalu RENDAH DIRI, maka kita bisa terkena penyakit LEUKEMIA (kanker darah putih).

Mari kita selalu BERSYUKUR atas segala perkara yang telah terjadi, karena dg bersyukur, maka "hati" ini menjadi BERGEMBIRA dan menimbulkan ENERGI POSITIF dalam tubuh utk mengusir segala penyakit-penyakit tersebut diatas.(HATI Yg GEMBIRA adalah OBAT).

Sumber: Buku "The Healing and Disease".
Sumber : Kembang Anggrek

Jumat, 24 Februari 2012

... KASIH TULUS SEORANG IBU ...

... KASIH TULUS SEORANG IBU ...
oleh Strawberry pada 24 Februari 2012 pukul 19:12 ·



Bismillahir-Rahmanir-Rahim ... Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah ? Sudah pasti jawabannya adalah : k-e-h-a-m-i- l-a-n.

Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, Seberat apa pun langkah yang mesti diayun, Seberapa lama pun waktu yang harus dijalani, Tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan: p-o-s-i-t-i- f.

Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya : menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedihkah atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika itu mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna, ketika mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran.

Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar. Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak.

Si kecil baru saja berucap "Ma?" segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada di daftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka.

Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan. "Demi anak", "Untuk anak", menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil.

Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju untuk dirinya sendiri dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil.

Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak. Di saat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Beli susu anak; 2. Uang sekolah anak. Nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.

Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu.

Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia pun terus mendongeng.

Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke sekolah. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat, "sudah makan belum?" tak lupa terlontar.

saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu, sekarang sudah menjadi orang dewasa yang bisa saja membeli makan siangnya sendiri di Sekolahnya.

Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. Ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar, buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, "Masihkah kau anakku?"

Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, "Bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian". Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. "Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih & shalihat sejak kecil," ujarnya.

Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya, Ibulah sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran, yaitu "cinta". Sekolah yang hanya punya satu guru yaitu "pecinta". Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: "anakku tercinta".

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#------------------------------------------------.... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa atuubu Ilaik ....
Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/

"KATA-KATA HIKMAH" ‎3 BULAN TIDAK MAMPU MENATAP WAJAH SUAMI

"KATA-KATA HIKMAH"
‎3 BULAN TIDAK MAMPU MENATAP WAJAH SUAMI

Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.

Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.

Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.

Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.

Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.

Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama

Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.

Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”. Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal. Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”. Sang istri pun bad rest di rumah sakit.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”. “Haah, pergi?”. Kata sang istri. “Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.

Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.

Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.

Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.

Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

Dan subhanallah …

Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.

Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.

Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.

Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

(Diterjemahkan dari kisah yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)

[sumber: www.seorangayah.wordpress.com]

Kamis, 23 Februari 2012

Tragedi Anak Seorang Pemulung

Terjadi Di Jakarta !!!, Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan !!
Penumpang kereta rel listrik (krl) jurusan Jakarta – Bogor pun geger minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa krl. Tapi di stasiun tebet, supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan setiabudi. Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel ka di cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, muriski saleh (6 thn), untuk memulung kardus di manggarai hingga salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan muriski termangu. Uang di saku tinggal rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari manggarai hingga ke stasiun tebet, supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di kramat, bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau khaerunisa sudah menghadap sang khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika krl jurusan bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang krl yang mendengar penjelasan supriono langsung berkerumun dan supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah khaerunisa. Jangan bilang keluarga supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia, ujarnya.

Ini betul-betul menyedihkan.. :(

Mari berjuang untuk Indonesia yang lebih baik agar tidak ada lagi hal-hal seperti ini
— bersamaBambang Eka, Woro Win, Aji Rbw, dan 35 lainnya.




S

Keajaiban Kesembuhan

Keajaiban Kesembuhan
By: Muhamad Agus Syafii

Malam telah larut seorang ibu hadir di Rumah Amalia berniat bershodaqoh untuk kesembuhan putra beliau karena putranya yang menginjak dewasa harus masuk rumah sakit karena penyakit kronis yang dideritanya. Setelah dilakukan pemeriksaan putra beliau dinyatakan oleh dokter bahwa sakit yang dideritanya harapan untuk sembuhnya sangatlah tipis. Menurut dokter agar memenuhi keinginan putranya dan berdoa, 'Siapa tahu ada harapan untuk sembuh, Allah Maha Menyembuhkan Ibu.' begitu tutur dokternya. Malam itu kami bersama anak-anak Amalia berdoa memohon kesembuhan untuk putranya. Malam itu beliau terlihat sangat bersedih dan sangat khawatir keadaan putranya. Itulah sebabnya beliau berniat bershodaqoh untuk kesembuhan putranya.

Dua pekan kemudian ada kabar yang cukup menggembirakan, dokter telah memberitahukan kepada sang ibu bahwa putranya memiliki harapan untuk disembuhkan dan keadaan sedikit demi sedikit telah membaik. Belakangan saya ahirnya putra beliau telah keluar dari rumah sakit dalam keadaan sehat walfiat. Semuanya sangat berbahagia dan bersyukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas kesembuhan dan begitu besarnya kasih sayang Allah padanya. Subhanallah. "Obatilah orang yang sakit dengan shodaqoh, bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bencana dengan berdoa." (HR. Baihaqi).

Sahabatku, aminkan doa ini mohon kesembuhan siapapun yg sedang terbaring sakit. "Ya Allah, Engkaulah sumber kebahagiaan kami, Engkau yang menyembuhkan setiap penyakit dengan segenap cintaMu. kami mohon kepada Engkau Ya Allah, sembuhkanlah saudara kami yg sedang terbaring sakit."
Sumber  : Mukjizat Shalat dan Doa

Rabu, 22 Februari 2012

Memberi Lebih berharga daripada Menerima "

Memberi Lebih berharga daripada Menerima "

Suatu sore,seorang mahasiswa
berjalan bersama dosennya.
Ketika mereka melihat sepasang
sepatu butut di tepi jalan.
Mereka yakin sepatu tersebut
milik seorang pekerja rendahan
yang bekerja di hutan.

Sang mahasiswa berpaling
pada dosennya seraya berkata,
"Mari kita sembunyikan sepatunya,
lalu kita bersembunyi di balik
semak-semak dan melihat
apa yang terjadi kemudian."

Dosen itu menjawab,
"Sobatku, kita tidak seharusnya
bersenang-senang dengan
mengorbankan orang miskin.
Engkau dapat melakukan sesuatu
yang lebih baik, dan itu akan
mendatangkan kesenangan besar
dalam dirimu.

Caranya adalah memasukkan uang
ke dalam kedua sepatu bututnya.
Setelah itu kita bersembunyi
untuk melihat reaksi orang tersebut."

Mahasiswa itu pun melakukan
apa yg dikatakan dosennya,
lalu mereka bersembunyi di balik semak-semak.

Tak lama kemudian, si empunya sepatu
keluar dari hutan dan bergegas mengambil
sepatunya. Ketika memasukkan salah satu kakinya,
ia merasakan ada benda yg mengganjal.

Ia pun merogoh ke dalam sepatu.
Ia nampak terkejut dan terheran
karena ada uang dalam sepatunya.
Ia memegang sambil menatap uang tersebut,
lalu melihat ke sekeliling apakah ada orang
di sekitarnya. Tapi, ia tidak melihat seorang pun
disana. Lalu ia memasukkan uang tersebut
ke kantongnya,sambil memasang sepatu lainnya.

Tapi, lagi-lagi ia terkejut karena ada uang
dalam sepatunya yang satu lagi.
Perasaan haru menguasainya,
ia jatuh tersungkur dan menengadah ke atas.

Doa ucapan syukur terdengar jelas dari mulutnya.
Ia berbicara mengenai istrinya yang sakit,
serta anaknya yang kelaparan karena tak ada uang.
Ia bersyukur atas kemurahan yg Tuhan berikan melalui
orang yg ia tidak ketahui. Melihat hal itu, sang mahasiswa
meneteskan airmata. Ia berpaling pada dosennya seraya berkata,
"Kau telah memberiku pelajaran yang tak kan kulupakan.
Kini aku mengerti bahwa lebih berbahagia memberi daripada menerima."
Sumber  :  Kembang Anggrek.blogspot.com

Muhammad SAW sewaktu.... kehilangan ibundanya

Muhammad SAW sewaktu.... kehilangan ibundanya
oleh Strawberry pada 22 Februari 2012 pukul 19:08 ·



Bismillahirr Rahmanirr Rahim …

Ketika nabi Muhammad dan Aminah menuju perjalanan ke Yastrib untuk berziarah ke makam Abdullah bin Abdul Muthalib.... .tiba tiba ada angin yang besar seperti topan badai....

"Karena topan yang besar ..Aminah merasakan tubuhnya lemas lunglai...sakit mulai merambah pada seluruh tubuhnya.... .dan rombongan penziarah pun dihentikan untuk menunggu badai ."

Muhammad saw pada mulanya tidak bersedih karena kelelahan yang tampak diwajah ibunya. Dia berharap rasa sakit ibunya segera hilang setelah angin topan itu reda. Adapun Aminah, dia merasa bahwa rasa lemah dan lelah itu adalah ajal yangg telah tertulis. Dia memeluk erat dan mencium anaknya yang semata wayang. Air menetes dari kedua matanya membasahi pipinya dan membasahi pipi anaknya. Yang ia cium dari kasih sayang seorang ibu. Muhammad menghapus air mata ibunya dg tangan yang lembut sambil menikmati kasih sayang berlimpah yang menyembunyikan kecemasan dalam dirinya.

Tiba-tiba kedua lengan Aminah terlepas lemas darinya. Muhammad saw yang masih kecil menatap cemas kepada ibunya. Dia kaget melihat sinar mata ibunya meredup dan suaranya melemah sedikit demi sedikit hingga berubah menjadi suara yang berbisik. Muhammad saw mengiba, memanggil-manggil nama ibunya, memintanya untuk menatapnya dan berbicara kepadanya.

Aminah menatap wajah anaknya dan berkata, "Allah memberkatimu sebagai seorang anak, wahai putra manusia yang diliputi kematian, yang selamat karena pertolongan Raja Yang Maha Mengetahui. Dia yang pada pagi hari, ketika dipanah anak panah ditebus dengan 100 unta peliharaan.

Kemudian Aminah berhenti untuk beristirahat. Namun ketika dia mendapati nafasnya tersenggal-senggal dia berbisik dalam detik-detik sakratul maut. "setiap yang hidup akan mati, setiap yang baru akan usang dan setiap yang besar akan lenyap. Aku akan mati tetapi namaku akan kekal karena aku telah meninggalkan kebaikan dan melahirkan anak yang suci." Lalu larutlah suaranya dikeheningan, ketiadaan dan setelah itu dia tidak berbicara untuk selama-lamanya.

Alam diliputi oleh kebisuan mencekam, sesaat kemudian dipecahkan oleh jeritan anak kecil yang tertimpa musibah, yang memeluk jasad ibunya ditengah padang pasir, dia memanggil-manggil ibunya yang tetap tidak menjawab panggilan itu.

Dia menoleh bingung kearah Ummu Aiman, bertanya padanya tentang rahasia kehidupan yang padam itu, jasad yang diam dan dingin, suara yang lenyap dan larut, maka budak wanita itu merangkulnya kedadanya tidak ada yang dapat dia lakukan kecuali berkata tanpa sadar, "wahai anakku, itu adalah kematian."

"kematian?"

"apakah dia sesuatu yang merampas ayah sebelumnya?" "apakah dia sesuatu yang menuangkan ibunya segelas derita karena menjanda? Yang karenanya dia tidak dapat menikmati hidup dan luka dihatinya tidak kunjung pulih selama 7 tahun yang panjang?" "apakah dia yang menghampiri orang-orang tercinta didalam didalam tanah dan tidak ada pertemuan kembali sesudahnya? " "apakah dia yang membawa pergi musafir ketempat yang tidak mungkin akan kembali?"

Disana anak yatim itu kembali melihat ibunya yang terbujur kaku. Anak yatim itu kini menjadi piatu. Ia duduk didekatnya dan menatapnya dengan diam, wajahnya sayu tidak dapat berbuat apa-apa, pada saat yang sama Barakah mengkafani jasad yang mati dan membalut wajah yang layu serta memejamkan kedua mata yang padam itu.

Muhammad mengikutinya dengan menunduk pasrah. Barakah kepala rombongan ziarah membawa jasad itu kedesa Al-Abwa' untuk mempersiapkan tempat tidur Aminah yang terakhir. Hingga ketika bumi hampir saja menimbun tubuh Aminah, anak semata wayangnya yang yatim itu berlari kearahnya dan memegangnya. Dia ingin ibunya tetap tetap bersamanya atau dia yang bersamanya.

Tangisan orang-orang disekitarnyapun menjadi-jadi karena kasihan dan iba. Mereka membiarkan anak yatim itu memegang ibunya untuk sesaat. Kemudian mereka menjauhkan anak itu dari ibunya dengan lembut dan membaringkan tubuh wanita mulia itu diliang lahat untuk peristirahatan terakhir. Dan mereka menimbunnya dengan pasir.

Sumber: dari blog seorang teman.......

SubhanAllah. ...

~.~.~.~.~.~.~

Ibu (Mamah) Aku Merindukanmu -_-

Ketika Aku mengantar kepergianmu MamahkuLangit mendung turut berdukaOrang-orang riuh rendah berceritaTentang segala amal kebaikanmu

Kini Aku datang kepadamu, MamahkuSemilir di bawah kamboja dan nisanmuAku menangis dan berdoaMengenang segala salah dan dosaku kepadamuKepergianmu seketika mendewasakan akuMengajarkan aku betapa penting arti hidupUntuk menjadi berguna bagi sesama

Kepergianmu Mamahku mengajarikuBagaimana harus mencintai dan menyayangiBagaimana harus tulus berkorban dan bersabarBagaimana harus berjuang demi anak-anaknyaHingga saat terakhir hayatmuEngkau terus berdoa demi kebahagiaan anak-anakmu

Hari ini aku menemuimu, MamahkuDengan haru aku mengenangmuBila datang saatnya nantiKan kuceritakan segala kebesaran dan keagunganmuBersama embun fajar kemarau ku sertakan doaSemoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-NyaAamiin ya Alloh ya Rabbal'alamin

NAMA HP-MU

Tahukah kamu bahwa HP-mu punya NAMA? Yuk kita coba!

Step 1: Ambil 3 digit terakhir dari nomor hp-mu. Contoh: 0817-888-9900, ambil "900" saja.

Step 2: Copy-paste ini: @*[684:0] lalu taruh di comment box di bawah sini, tapi nomor "684" diganti dengan 3 digit terakhir dari nomor hpmu.
... ...
Step 3: Hilangkan tanda * dan tekan enter.

Selamat mencoba.. :D