iklan

Senin, 07 Mei 2012

SELAMAT JALAN NURAH..!!


SELAMAT JALAN NURAH..!!
oleh Strawberry pada 7 Mei 2012 pukul 16:43 ·


Kisah berikut ini semoga bisa melembutkan hati kita. Kisah berikut ini semoga semakin menyentak kesadaran kita bahwa suatu saat “dia” pasti akan datang, cepat atau lambat. Ya, dia pasti datang. Pasti! Dan kita tidak akan bisa lari darinya.

***
Nurah, saudari perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi seperti biasa, ia masih membaca al-Qur’an.

Jika ingin menemuinya, pergilah ke mushollanya. Di sana engkau akan mendapatinya sedang ruku’, sujud dan menengadahkan tangannya ke langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di tengah malam hari. Ia tidak pernah jenuh.

Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni, tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak pernah beranjak dari depan video. Bahkan, aku sudah identik dengan benda satu ini. Setiap video diputar, pasti di situ ada aku. Karena “kesibukanku” ini, banyak kewajiban yang tidak bisa kuselesaikan. Bahkan aku suka meninggalkan shalat.

Setelah tiga jam berturut-turut menonton video di tengah malam, aku dikagetkan oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid dekat rumahku. Aku pun segera kembali ke tempat tidurku.

Nurah memanggilku dari mushollanya.

“Ada apa Nurah?” tanyaku.

“Jangan tidur sebelum sholat Subuh!” ia mengingatkan. “Ah…Shubuh kan masih satu jam lagi. Yang baru saja kan adzan pertama.”

Begitulah, ia selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai akhirnya ia terbaring sakit. Ia tergeletak lemah di tempat tidur.

“Hanah!” panggilnya lagi suatu ketika.

Aku tak mampu menolaknya. Suara itu begitu jujur dan polos.

“Ada apa saudariku?” tanyaku pelan.

“Duduklah!”

Aku menurut dan duduk di sisinya. Hening…

Sejenak kemudian Nurah melantunkan ayat suci al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (QS. Ali Imran: 185)

Diam sebentar, lalu ia bertanya, ”Apakah kamu tidak percaya akan adanya kematian?”

“Tentu saja percaya!”

“Apakah kamu tidak percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab, baik yang besar maupun yang kecil?”

“Percaya. Tetapi bukankah Alloh Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda. Umurku masih panjang!”

“Saudariku, apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba? Lihatlah Hindun, dia lebih muda darimu, tetapi meninggal karena sebuah kecelakaan. Lihat pula si Fulanah …

Kematian tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi kematian seseorang.”

Aku menjawabnya penuh ketakutan. Suasana mushollanya yang gelap mencekam, semakin menambah rasa takutku.

“Aku takut dengan gelap, bagaimana engkau menakut-nakuti lagi dengan kematian? Di mana aku akan tidur nanti?” Jiwa asliku yang amat penakut betul-betul nampak.

Kucoba menenangkan diri. Aku berusaha tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangkan, rekreasi.

“Oh ya, ku kira engkau setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi bersama?” pancingku.

“Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang jauh…mungkin…umur ada di tangan Alloh, Hanah.” Aku pun menangis.

Suara itu bergetar, aku ikut hanyut dalam kesedihan.

Sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah. Menurut analisa medis, para dokter sudah tak sanggup, dan itu berarti dekatnya kematian.

Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua padanya? Atau ia memang merasa sudah datang waktunya?

“Mengapa termenung? Apa yang engkau lamunkan?” katanya dengan suara agak keras.

“Apa kau mengira hal ini kukatakan karena aku sedang sakit? Tidak. Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur orang-orang sehat. Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40 tahun atau …Lalu apa setelah itu?”

Dalam kegelapan, tangannya kuraih dan kugenggam erat.

“Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum mendengar ayat:

“Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali-Imran: 185)

Sampai besok pagi,” ia menutup nasihatnya.

Nasihatnya masih terngiang-ngiang di gendang telingaku, ”Semoga Alloh memberimu petunjuk, jangan lupa sholat!”

Jam 8 pagi hari…

Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. “Pada jam ini biasanya aku belum mau bangun,” pikirku.

Tetapi di luar terdengar suara gaduh, orang banyak terisak.

“Ya Robbi, apa yang terjadi?”

“Mungkin Nurah…?” firasatku berbicara. Dan benar, Nurah pingsan. Ayah segera melarikannya ke rumah sakit. Inna lillaahi wa inna ‘ilaihi rooji’uun.

Tidak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggui Nurah yang sedang sakit.

Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas.

Tepat pukul satu siang, ayah menelpon dari rumah sakit. “Kalian bisa menjenguknya sekarang! Cepatlah datang!”

Kata ibu, tampak sekali ayah begitu panik, nada suaranya berbeda dari biasanya.

“Mana sopir…?” Kami semua terburu-buru. Kami menyuruh sopir menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa dekat bila aku menikmatinya dalam perjalanan liburan, kini terasa amat panjang, panjang dan lama sekali. Jalan macet yang biasanya kunanti-nantikan sehingga aku bisa menengok ke kanan-kiri, cuci mata, kini terasa menyebalkan. Di sampingku, ibu berdoa untuk keselamat Nurah.

“Dia anak shalihah dan taat. Ia tidak pernah menyia-nyiakan waktunya. Ia begitu rajin beribadah”, ibu bergumam sendirian.

Kami turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Para pasien pada tergeletak lunglai. Di sana-sini terdengar lirih suara rintihan. Ada yang baru saja masuk karena kecelakaan mobil, ada yang matanya buta, ada yang mengerang keras. Tidak diketahui apakah mereka akan hidup atau kah akan mati. Pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding.

Kami naik tangga menuju lantai atas. Seorang perawat berkata, ”Ia berada di ruang perawatan intensif. Saya akan mengantarkan kalian ke sana.” Perawat itu menyampaikan bahwa kondisinya baik-baik saja. Ibu pun merasa agak tenang, setelah berhasil melewati masa kritis yang terjadi padanya. Di depan pintu terpampang papan peringatan: ”Tidak boleh masuk lebih dari satu orang!”

Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah jendela kecil yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata Nurah sedang memandangiku, sementara ibu berdiri di sampingnya. Dua menit kemudian, ibu keluar dari ruang perawatan intensif dengan tak kuat menahan air matanya.

Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak mengajaknya bicara. Aku diberi waktu dua menit.

“Bagaimana keadaanmu Nurah? Tadi malam engkau baik-baik saja. Apa yang terjadi denganmu?” aku menghujaninya dengan pertanyaan.

“Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja”, jawabnya dengan berusaha tersenyum. “Tapi, mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?” aku menyelidik.

Aku duduk di pinggir dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia segera menjauhkannya dari jangkauanku.

“Maaf, kalau aku mengganggumu!”, aku tertunduk.

”Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.” (QS. Al-Qiyamah: 29-30)

Nurah melantunkan ayat suci Al-Qur’an.

“Hanah, berdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupanku di akhirat… Perjalananku amat jauh, tetapi bekalku sedikit sekali.”

Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya, tidak sadar di mana saat aku berada. Aku terus menangis. Ayah mengkhawatirkan keadaanku. Sebab, mereka tak pernah melihatku menangis seperti itu.

Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada hari itu, Nurah meninggal dunia…

Suasana di rumah kami digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu, pecah oleh tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga berdatangan melayat. Aku tidak bisa membedakan lagi, siapa-siapa yang datang. Tidak pula apa yang mereka percakapkan.

ku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya Alloh, bagaimana dengan diriku? Apa yang bakal terjadi dengan diriku? Aku tak kuasa lagi, meski sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan terakhir. Aku ingin mencium keningnya.

Kini, tak ada yang kuingat selain satu hal. Aku ingat firman Alloh yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya.

“Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan).” (QS. Al-Qiyamah: 29)

Aku kini benar-benar paham bahwa,

”Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.” (QS. Al-Qiyamah:30)

Aku tidak tahu, ternyata malam itu adalah malam terakhir aku menjumpainya di mushollanya.

Terbayang kembali saudara kembarku, Nurah yang demikian baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut memahami dan merasakan kegalauanku. Saudari yang selalu mendoakanku agar aku mendapat hidayah Alloh. Saudari yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasihatiku tentang mati, hari perhitungan…

Ya Alloh, malam ini adalah malam pertama bagi Nurah di kuburnya. Ya Alloh, rahmatilah dia, terangilah kuburnya.

Ya Alloh, ini mushaf Nurah … Ini sajadahnya… dan ini… ini gaun merah muda yang pernah dikatakannya padaku, bakal dijadikan kenangan manis pernikahannya.

Aku menangisi hari-hariku yang berlalu dengan sia-sia. Aku menangis terus menerus, tak bisa berhenti. Aku berdoa kepada Alloh semoga Dia merahmatiku dan menerima tubatku.

Aku mendoakan Nurah agar mendapatkan keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia begitu sering dan suka mendoakanku.

Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. “Apa yang terjadi jika yang meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?”

Aku tak berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi.

Alloohu Akbar…Alloohu Akbar…

Adzan fajar berkumandang. Tetapi, aduhai alangkah merdunya suara panggilan itu kali ini.

Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan sajadah, selanjutnya aku shalat Shubuh. Aku shalat seperti keadaan orang yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pernah kusaksikan terakhir kali dari saudari kembarku Nurah.

Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu sore; dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi”. Selesai.

Sumber: Saudariku, Apa yang Mnghalangimu untuk Berjilbab terbitan Darul Haq
Sumber  :  KembangAnggrek2.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar